Ibnu Rusdi Handono

Lahir di desa Pajaran, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, pada tanggal 25 Juli 1969. Lulus SDN Genengwaru Rembang th 1981, SMPN 1 Gondang Wetan P...

Selengkapnya
KESURUPAN

KESURUPAN

Selasa, bel tanda pergantian jam pelajaran berdenging, melengking bagai paduan jerit ribuan nyamuk. Masuk jam keempat, empat puluh menit menjelang istirahat. Pelajaran Matematika baru berjalan setengah babak, Aku sudah terforsir dan lelah. Aku menatap nanar pada angka-angka di papan tulis, sisi-sisi bangun, jari-jari dan sudut. Lalu nalar inderaku melemah, angka-angka berubah jadi bihun, mi dan pentol. Segitiga, belah ketupat, jajaran genjang menjelma jadi tahu isi, goreng tempe, dan menjes. Tabung dan kubus, bertransformasi jadi segelas es teh.

“Blaaar !” Aku geragap, Pak Rudi menghentak papan dengan penghapus.

Aku berusaha fokus, alih-alih mataku menyapu setiap penjuru kelas. Setali tiga uang, beberapa teman melihat papan dengan tatapan kosong. Udin sedang asik, bolpoinnya menari-nari lincah di atas kertas. Asal tahu saja,buku catatannya penuh dengan sketsa dan gambar. Ferdi, Dani, Dafa,…. Tapi, sebaliknya dengan Dinar, sorot matanya selalu berbinar seakan semangat belajarnya tak kenal pudar.

“Heeiiigh… heeiigh…heeiigh…!” Suara melenguh seperti sapi tercekik. Tiba-tiba, Saira menggelepar bagai ikan, kaki tangannya menghentak-hentak simultan.

“Hiih…heerrgh….” Saira menggeram. Saira kesurupan. Matanya blingsatan.

Suasana kelas jadi gempar. Nia, teman dekat Saira pingsan. Udin, Ferdi, Dani, dan Dafa sigap memegang kaki tangan Saira yang meronta-ronta tak karuan.

“Tahan kepala Saira ! Awas terbentur….” Suara Pak Rudi, mengatasi jerit tangis murid-murid putri. “Bopong Nia ke kantor !”

Aku akan beranjak, ketika Pak Rudi setengah membentak, “Farhan, pangggilkan Pak Adi.”

Aku berlari akan menjemput Pak Adi di kantor. Tapi, yang terjadi diluar dugaan, empat orang murid kesurupan dalam waktu bersamaan di kelas-kelas lain. Kelas-kelas bubar, semua murid keluar ke halaman. Mereka menjerit dan menangis, ada yang tertegun tak berkata-kata. Ada juga yang tertawa girang, mereka menganggap sebagai hiburan layaknya jaran kepang.

Ruang Guru, empat siswa terseret ke dunia lain. Mereka berperilaku bukan seperti jati dirinya, maka mereka bergerak lepas kendali dan meluncurlah suara-suara meracau yang aneh-aneh. Ruang Guru menjadi ajang pertarungan seru, antara mahluk astral yang merasuk mendekam di badan korban dengan beberapa guru yang bahu membahu berusaha membangunsadarkan.

Di lorong antara meja-meja, Pak Adi berbekal berkah indera keenam, berjibaku menahan kekuatan penyusup terhadap Saira. Gerakan menahan, mendorong dan mengibas diperagakan bagai pendekar silat handal. Aku hanya melongo, mataku tak bisa menangkap wujud lawan-lawannya. Aku melihat tangan Pak Adi menegang, bergetar menahan beban, mendorong, menarik, dan menggenggam angin dari bagian jemari kaki, perut, jemari tangan hingga tenggorokan. Mata Pak Adi memerah, sorotnya lelah bagai sedang menahan kantuk berat. Mata Saira melotot,marah. Ia meronta luar biasa, melampaui batas kuat tubuh kecilnya.

Dekat pintu, Pak Han dan Pak Saifi merapal ayat-ayat ruqyah terhadap Nadir. Lantunan ayat-ayat al Fatehah, al Ikhlas, al Falaq, an Nas, al Kaafiruun, dan Kursiiy menyeruak diantara lenguh panjang, desis geram, ringkik tawa, bahkan jerit tangis para korban. Guru-guru lain dan siswa-siswa yang memegangi mereka, turut membantu dengan bacaan istighfar, takbir, juga sholawat.

Nadir bereaksi bagai seekor kucing liar. Jemari tangannya menekuk tegang siap mencakar. Posisi tubuh jongkok, siap menerkam. Mata melotot blingsatan. Dengus nafas bagai kuda larat.

“Awasss…!” Mendengus, dengan suara berat. Menyeringai ke arah pintu-pintu dan jendela-jendela, siswa-siswa di luar mengintip dari sana.

“Nadir mereaksi serbuan dari luar.” Pak Adi coba menjelaskan, setengah berbisik.

“Maksudnya?” Pak Han meminta kepastian. Bergeser merapat Pak Adi.

“Sekelompok pendatang berusaha masuk, teman-teman yang masuk tubuh Saira, Nia, dan Vita.” Pak Adi memberi gambaran keadaan yang tak dapat kupahami.

“Yang di Nadir asli sini, ia berusaha membendung pihak luar. Tapi tampaknya kalah kuat.” Pak Adi beringsut menjauh.

Pak Han nampaknya mengerti maksud Pak Adi. Selanjutnya mereka terlibat percakapan serius. Aku takbisa mendengar mereka membahas apa.

Butuh waktu, mungkin sejam bahkan lebih untuk pulih. Nia, Vita, Syaira telah sadar. Rambut mereka berantakan, baju seragam berlepotan debu lantai. Wajah mereka kuyu, kelelahan. Adapun Nadir, wajahnya pucat pasi, memaksa berdiri kaki kirinya pincang. Meringis menahan nyeri, mungkin terkilir. Seperti sebelumnya, hari ini sekolah pulang lebih dini. Ini kejadian kedua. Tapi, ini bukan kejadian terakhir.

Kamis, dua hari kemudian. Kejadian kesurupan berulang, bahkan jumlah korban bertambah. Waktu kejadian, antara jam sembilan menjelang istirahat. Mereka berjatuhan berantai, polanya berulang. Saira, kemudian Nia, Vita, lalu Nadir. Bagai virus, rasuk roh halus itu menular kepada Qomaria, Putri dan Mahsus. Sekali lagi, warga sekolah melakukan upaya penanggulangan sebisa mungkin dan menelisik modus atau kemungkinan ada unsur kesengajaan.

Opini liar merebak bagai virus, itu pagebluk kiriman. Ada dalang bermain dibelakang. Ada tujuan makar anti kemapanan. Modus untuk penggembosan oleh pesaing. Bahkan, motif balas dendam. Prasangka negatif berkembang bagai cendawan di musim hujan. Sejauh ini, setanlah yang menang.

Tiga pekan, peristiwa itu terus berkelanjutan berselang jeda dua atau tiga hari. Hari-hari bergulir dalam gelisah dan penantian. Sekolah berusaha melakukan segala cara, mendatangkan ‘orang pintar’ atau orang yang memiliki kemampuan olah kanuragan. Tetapi, peristiwa rasuk raga masih menerpa beberpa temanku. Aku lihat dan rasakan, bosan mulai terbersit di wajah guruku yang mulai enggan turun tangan. Lelah dan penat, bergelut dalam geliat tak kasat.

Pekan keempat, sekolah mengadakan khotmil Qur’an yang melibatkan seluruh warga sekolah. Pembacaan ayat-ayat tiga puluh juz oleh siswa di seluruh kelas dan pembacaan ruqiyah syar’iyah dari mp3 berulang-ulang berakibat beberapa siswa yang pernah kerasukan blingsatan, mengerang, menangis bahkan berteriak kepanasan. Terjadi kesibukan guru-guru merawat mereka yang tumbang, satu-persatu mereka teratasi. Ada yang teratasi dengan mudah, tapi ada beberapa yang sulit. Ternyata yang menyebabkan kesulitan karena mereka memakai jimat dalam bentuk kalung, cincin, tasbih, bahkan lumuran minyak wangi. Setelah benda-benda itu diambil, mereka perlahan sadar. Ketika pembacaan sholawat burdah berjamaah, suasana sudah benar-benar kondusif. Ritual hari itu ditutup dengan doa. Sebelas tiga puluh, aku dan teman-teman diperkenankan pulang. Alhamdulillah.

Ketika anda membaca tulisan ini, peristiwa itu belum berakhir. Aku masih berpikir, hikmah apa yang dapat menjadi pelajaran dari peristiwa itu. Ketika aku membuka WhatsApp grup sekolah, aku temukan satu puisi postingan salah satu guru. Ibrah, rencana Ilahiah nan indah.

Setiap orang bisa kesurupan,

Bahkan kita tak ada yang luput dari intaian

Dalam kegelapan, bahkan ketika benderang

Bisikan dan rayuan berkumandang….

Makar tiba-tiba menikam

Ketika dalam musibah, seorang harus menghadapi ujian

Ikhlas, usaha dan tawakal dipertontonkan

Usahamu sudah maksimal, kawan

Setidaknya ada kepedulian, berbagi upaya kebajikan

Orang lemah dan bodoh, bahkan pun penyandang keterbatasan

Ketika masih memiliki empati, ia pasti enggan berpangku tangan

Setidaknya ketika melihat saudaranya tenggelam,

dalam keterbatasan ia berteriak minta pertolongan

Berbuat ikhlas memang berat…

Orang hasad terlaknat hanya pandai menghujat,

Mati nurani nyinyir melihat penderitaan sesama

Tertawa bahagia fantasi orgasme dalam derita

Jumawa

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali